Skip to content
Oktober 10, 2007 / dasarburung

MIgrasi burung pemangsa

Bismillah…

berikut inih sayah kutipkan tulisan tentang migrasi burung yg ditulis ama kang wisnu di salah satu surat kabar. 

Migrasi Burung Pemangsa Asia

SETIAP akhir September sampai Desember, berlangsung musim migrasi burung dari belahan Bumi utara meliputi wilayah Utara daratan Asia, Eropa, dan Amerika. Saat itu berbagai macam rantai makanan terputus oleh hibernasi berbagai spesies mangsa dan iklim ekstrem, sehingga ribuan individu bermigrasi melintasi benua menuju wilayah yang bisa mencukupi kebutuhan makan dan aktivitas hariannya. Indonesia adalah lokasi yang cocok sebagai jalur migrasi dan lokasi istirahat (resting sites) saat burung bermigrasi.Di antara yang bermigrasi adalah jenis burung pemangsa. Mereka kerap dikategorikan sebagai top predator dalam piramida makanan, sehingga kadang disebut sebagai raptor, burung elang, atau alap-alap. Sebenarnya elang dan alap-alap itu berbeda, tetapi masyarakat sering mempersepsikan sama. Karena migrasi berlangsung dalam jumlah besar, lintasan migrasinya harus memiliki wilayah-wilayah ekosistem yang baik untuk memenuhi kebutuhan mangsa burung-burung migran ini.

Migrasi Migrasi sebenarnya tidak hanya disebabkan oleh perubahan iklim ekstrem dan hibernasi spesies mangsa, tetapi juga oleh faktor reproduksi, temperatur, pola persaingan, perilaku dispersal atau pemencaran. Biasanya ada empat tipe migrasi.

1. Migrasi Jarak Jauh atau interkontinental. Ini berlangsung antarbenua atau antarregional berdasarkan garis lintang. Migrasi ini disebabkan oleh perbedaan di musim di wilayah utara dan selatan Bumi. Disebut pula sebagai migrasi interkontinental.

2. Migrasi Jarak Pendek atau parsial. Ini berlangsung antarpulau atau antarketinggian. Migrasi ini hanya menjelajahi wilayah regional yang sempit karena perbedaan musim setempat.

3. Migrasi Latitudinal. Ini berlangsung berdasarkan luas jangkauannya secara horizontal, karena adanya perbedaan musim atau temperatur latitudinal (horizontal). Spesies dengan tipe migrasi ini umumnya memiliki jangkauan jauh dalam bermigrasi sehingga migrasi latitudinal juga dianggap sebagai migran interkontinental.

4. Migrasi Altitudinal. Ini berdasarkan adanya perbedaan iklim atau musim di wilayah yang memiliki ketinggian yang berbeda, misalnya, migrasi spesies dari gunung ke wilayah hutan pantai pada musim breeding. Karena wilayah migrasinya sempit, bisa dalam satu kepulauan atau antarpulau, migrasi ini juga disebut migrasi jarak pendek atau parsial.

Selain itu ada pula yang disebut vagran, yaitu spesies yang bermigrasi di luar jadwal migrasi atau di luar jangkauan jalur migrasi. Ini sering disebut sebagai jenis migran tersasar. Misalnya, spesies tersebut mempunyai waktu migrasi Oktober-Desember, tetapi spesies vagran itu berkunjung di wilayah migrasinya pada bulan Mei atau Agustus. Atau spesies tersebut memiliki jalur ke wilayah Malaysia, tetapi beberapa jenis melakukan perjalanan soliter ke Sumatera atau Jawa.

Burung pemangsa Di dunia terdapat 292-312 spesies burung pemangsa (Howard & Moore 1991 serta Thiollay 1994). Di Indonesia sendiri terinterpretasi 69 spesies burung pemangsa (Rudyanto 2001), 26 bertipe migran interkontinental dan dua di antaranya tipe vagran.

Migrasi burung pemangsa atau raptor migran Asia di Indonesia memiliki dua jalur besar yaitu dari semenanjung Malaya dan dari Kepulauan Filipina. Untuk spesies tertentu diperkirakan juga melalui jalur kecil dari kepulauan Nicobar, India.

Dari semenanjung Malaya, kelompok-kelompok individu melewati Kepulauan Riau (Bengkalis dan Rupat) kemudian bergerak menuju ke arah Tenggara melintasi Sungai Serka (Riau), Muara Banyuasin, Simpanggagas dan Sungai Sembilang (Sumatera Selatan), Lampung Timur, dan diperkirakan melewati Bakauheni untuk menuju ke Pulau Dua, Teluk Banten.

Dari teluk Banten, kelompok tersebut bergerak menuju ke selatan melintasi Gunung Halimun, Kota Bogor, Puncak, dan pecah menjadi dua jalur di wilayah utara dan selatan Bandung dan diperkirakan melintasi wilayah Bantarujeg dan Ceremai. Dari Ceremai, kelompok besar tersebut melintasi sekitar Gunung Slamet, dataran tinggi Dieng, Sumbing sampai melintas wilayah Merapi dan Merbabu ke arah Gunung Arjuna, Argopuro, kemungkinan melintasi Semeru sampai pecah dua kelompok di mana satu kelompok besar ke arah timur yaitu Pulau Bali melintasi wilayah Meru Betiri dan kelompok kecil ke arah Sadengan dan Plengkung, Alas Purwo, Banyuwangi.

Di Bali, kelompok-kelompok burung pemangsa migran ini bersatu kembali di Teluk Terima, Bali Barat dan melakukan migrasi kembali ke arah wilayah Danau Batur kemungkinan melintasi Gunung Agung menuju ke arah Gunung Seraya. Dari Seraya, beberapa kelompok raptor bermigrasi ke Nusa Tenggara. Catatan di wilayah Nusa Tenggara Barat belum ada tetapi dari beberapa pulau di Nusa Tenggara Timur, Accipiter soloensis tercatat melakukan migrasi di wilayah Pulau Komodo, Pulau Sumba, Maumere, dan Golo Lusang, Flores.

Untuk kelompok kecil seperti jenis Accipiter badius dan Aviceda leuphotes kemungkinan besar melewati kepulauan Nicobar dan Andaman menuju Kepulauan Nias dan Mentawai dan ke arah Sumatera Selatan dan Lampung bahkan sampai Jawa. Tahun 2001 tercatat keberadaan Aviceda leuphotes di Banjar Sari dan Desa Caringin Bogor, Jawa Barat. Di Nias dan Mentawai juga ada catatan mengenai Accipiter soloensis, tetapi kemungkinan besar merupakan individu yang keluar dari jalur migrasi alami di Semenanjung Malaya.

Jalur Filipina Di jalur dari Filipina kemungkinan besar pecah menjadi dua kelompok yaitu kelompok-kelompok burung pemangsa migran yang menuju Kalimantan Utara melewati Pulau Palawan dan kelompok lainnya yang menuju Sangihe-Talaud melintasi Pulau Luzon.

Kelompok-kelompok yang berasal dari Pulau Palawan tersebut masuk melalui wilayah Sabah dan kemungkinan pecah menjadi dua bagian di mana beberapa kelompok seperti Circus cyaneus, Aviceda jerdoni (dianggap ras migran walau ada subspesies penetap di Kalimantan) dan beberapa kelompok kecil Milvus migrans menuju ke Sarawak, Gunung Palung, Danau Sentarum, dan daerah Sungai Kahayan, pedalaman Barito. Beberapa kelompok yang kemungkinan lebih besar seperti Falco peregrinus calidus masuk ke wilayah Berau, ke arah pesisir Kutai, Delta Mahakam, Tanjung Selor, Danau Jempang, dan mencapai wilayah Balikpapan dan Danau Riam Kanan.

Kelompok besar yang melintasi Pulau Luzon melakukan migrasi melintasi kepulauan Sangihe-Talaud, Sulawesi. Di Sangihe-Talaud ini kemungkinan kelompok besar tersebut pecah, di mana satu kelompok menuju ke arah Pulau Poa (Togean) melalui Dumoga dan kelompok lain melakukan pergerakan ke arah Pulau Ternate, Pulau Bacan, Pulau Bisa, kemudian melintasi Obi, Pulau Seram dan berakhir di wilayah Kepulauan Tanimbar. Ada kemungkinan dari Pulau Seram, satu kelompok Accipiter soloensis dan Circus spinolotus menuju Papua melakukan aktivitas hariannya di Teluk Bintuni. Tetapi, untuk Circus spinolotus juga ada spesies penetap di Papua.

Kelompok yang bergerak dari Pulau Poa diperkirakan pecah di mana kelompok besar melakukan pergerakan ke wilayah Rawa Aopa (Sulawesi Tenggara). Kemudian, kelompok tersebut menyeberangi Teluk Bone ke arah Pare-pare dan melintas jauh ke Pulau Laut, Kalimantan Selatan. Dari Kalimantan Selatan, kelompok bergerak ke Danau Riam Kanan dan melakukan aktivitas hariannya di pesisir Balikpapan dan Danau Jempang. Satu kelompok kecil dari Poa pecah ke Kepulauan Taliabu sampai di Pulau Buru.

Kerusakan hutan tropis yang sangat tinggi di Indonesia tentu akan menurunkan populasi spesies mangsa dan menimbulkan fragmentasi hutan yang menghambat pergerakan berbagai spesies hewan. Jadi konservasi hutan tidak hanya bermanfaat dalam konteks lokal tetapi juga global.

Mudah-mudahan kesadaran untuk melestarikan hutan bisa membuat kita semua menikmati pemandangan berupa sejumlah besar burung-bisa ratusan-terbang tinggi, berputar-putar dan kemudian terbang lurus tanpa kepakan di wilayah Puncak Pass, Hutan Raya Djuanda (Jawa Barat), Linggo Asri (Jawa Tengah), Teluk Terima (Bali) pada jam-jam tertentu di bulan ini.

(Wishnu Sukmantoro, koordinator Asian Raptor Migrant Indonesia Program untuk Asian Raptor Research and Conservation (ARRC) dan Raptor Indonesia (RAIN) )

  1. ilhamifajaruddin / Agu 4 2008 1:59 am

    lumayan

  2. dasarburung / Agu 5 2008 3:34 am

    terima kasih sudah mampir
    silakan berkunjung lagi
    ^^

Trackbacks

  1. 2010 in review « BirD in BaNdUn9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: