Skip to content
Oktober 10, 2007 / dasarburung

flu burung dan migrasi

tulisan yang ini juga kutipan dari salah satu mass media. Hatur nuhun buat kang wisnu…..

Flu Burung dan Migrasi

Wishnu Sukmantoro

Apa yang dilontarkan oleh Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari di dalam pemberitaan di media merupakan lontaran yang lawas. Migrasi burung sudah diindikasi sejak puluhan tahun dapat membawa virus atau penyakit. Dalam konteks kasus saat ini, apakah migrasi burung menjadi faktor penyebab tersebarnya flu burung di Jakarta?

Untuk menanggapi ini tentunya perlu dilakukan berbagai analisa terutama kajian migrasi burung itu sendiri, epidemiologi penyakit yang berhubungan dengan media transmisi virus penyebab penyakit (agen) termasuk lokasi-lokasi lalu lintas agen yang disebut sebagai portal of entry (tempat masuk) agen ke dalam tubuh hewan atau manusia dan kajian virologi itu sendiri. Kajian migrasi burung di Indonesia sebenarnya sudah tumbuh cukup lama yaitu dimulai kajian migrasi melalui alat cincin yang dipasang pada kaki burung yang di sebut bird banding atau bird ringing (Istilah Inggris) dalam program water bird cencus.

Kemudian, kegiatan tersebut juga diikuti beberapa universitas terutama dalam kegiatan pencincinan di Bandung (Jawa Barat) dan di Padang (Sumatera Barat) untuk jenis layang-layang asia (Hirundo rustica) dan jenis-jenis migrasi lainnya diawali pada tahun 1990.

Sampai akhir tahun 2000-an, kajian migrasi juga melangkah pada kajian tentang jenis-jenis elang (raptor) yang bermigrasi ke Indonesia. Kajian ini menjadi sangat menarik karena berkenaan dengan mencari kesimpulan kepastian jalur migrasi burung tersebut secara tepat, karena sampai saat ini, fenomena migrasi terutama rute migrasi beberapa spesies masih menjadi misteri.

Ada faktor lain yang tak kalah menarik bahwa sebuah insting dalam spesies yang bermigrasi digunakan sebagai alat navigasi yang keakuratannya luar biasa, di mana spesies tersebut menjelajahi ribuan mil dengan jalur migrasi yang tetap dan pasti setiap tahun.

Dari kajian jalur migrasi saja, sebenarnya sudah dapat menguraikan kesimpangsiuran kasus flu burung yang saat ini merebak. Sayang, bahwa tidak banyak orang yang melakukan studi ini secara detail di Indonesia dan pengetahuan mengenai ini terpinggirkan meskipun beberapa pengamat burung masih melakukan pemantauan secara individu atau dari organisasi yang independen.

Migrasi burung

Migrasi burung merupakan peristiwa yang alamiah dan terjadi setiap tahun pada saat pergantian musim khususnya di bagian Utara atau Selatan bumi. Ada dua bagian besar migrasi yaitu migrasi jarak jauh (antar benua) dan migrasi jarak dekat (migrasi lokal) antar ketinggian lokasi atau berhubungan dengan tempat mencari makan. Adapula yang disebut residen atau penetap, di mana spesies tersebut memiliki daerah jelajah yang tidak luas dan masih dalam satu kawasan perkembangbiakan.

Di Indonesia, lebih dari 160 spesies dari 1.590 spesies burung (menurut Howard and Moore, 2004) yang merupakan spesies migrasi dan sebagian di ataranya merupakan spesies migrasi jarak jauh.

Dalam musim migrasi (akhir September sampai Oktober) ke bagian Selatan atau dari Utara-Barat ke arah Selatan-Timur ini melibatkan ribuan sampai ratusan ribu individu (ekor) masuk ke wilayah-wilayah yang dituju dan akan kembali lagi pada saat musim berubah di bagian Utara yaitu pada bulan Maret sampai April.

Pintu-pintu utama masuknya spesies tersebut ke Indonesia dapat melewati Malaysia dan Philipina yang merupakan koridor besar (jalur migrasi besar) dan ada pula masuk melewati wilayah kepulauan Andaman dan masuk kewilayah Sumatera, meskipun demikian bahwa lintasan-lintasan migrasi tersebut sangat sulit terdeteksi karena melibatkan begitu banyaknya spesies dengan spesifikasi jalur migrasi dan banyak lintasan-lintasan kecil migrasi pada saat masuk ke Indonesia.

Mengenai tertular atau terkontaminasi penyakit dari tempat asalnya, itu dapat saja terjadi. Kasus kematian 1.500 individu Bar-headed Geese Anser indicus di Danau Qinghai, China, tahun ini (30 April 2005) yang dicatat dalam majalah Nature 6 Juli 2005 dan kematian banyak individu burung migran selama bermigrasi merupakan peristiwa alamiah dan merupakan salah satu seleksi alam bagi spesies tersebut dalam pertahanan hidup, selain disebabkan oleh badai, kehabisan persediaan makanan dan tidak ada lagi tempat persinggahan karena perubahan bentang lahan.

Tetapi, apakah jenis ini juga menyebabkan penyebaran virus AI kepada manusia? Itu yang perlu dikaji secara mendalam. Pertama, apabila penyebaran virus AI melewati spesies yang bermigrasi, berarti kasus AI sudah berlangsung lama karena melibatkan fenomena yang alamiah. Layang-layang asia (Hirundo rustica) merupakan spesies migrasi yang karakter resting site nya sering berada di wilayah perkotaan, bertenger di kabel-kabel listrik atau pepohonan mencapai ribuan jumlahnya.

Sampai saat ini, belum pernah ada kasus yang terungkap bahwa masyarakat yang berada di dekat lokasi tenggerannya tersebut terkena virus AI. Kedua, adalah kontak manusia dengan spesies migrasi. Tipikal virus adalah pada saat berkembang biak atau berpindah dari tempat satu ke tempat lain membutuhkan subtrat atau media.

Media tersebut bisa berasal dari cairan tubuh penderita yang dilekati virus atau berasal media lain (makanan yang mengandung protein). Hal ini sulit dilakukan antara spesies migrasi dengan manusia karena tidak ada peluang touch, kecuali dikenai kotoran (feses yang mengandung virus AI) dan dijaring atau dikonsumsi secara tidak sehat ataupun melalui media lain (ternak ataupun satwa yang residen lainnya), itu pun persentasenya sangat kecil.

Ketiga, faktor seleksi alam tadi, bahwa para ahli percaya, spesies yang terkontaminasi penyakit dengan sendirinya akan terseleksi oleh alam atau mati sebelum tiba di tempat tujuan migrasi. Jadi, spesies yang bermigrasi merupakan spesies yang tahan atau tidak terkontaminasi penyakit.

Malaysia telah melakukan pengecekan selama tiga tahun sejak tahun 2000 terhadap 4.000 individu burung migrasi yang terbang melintas di wilayah Ipoh dan tidak ada satu pun spesies tersebut yang terkena virus AI (Bernama, 31 Januari 2004). Tahun 2004 pun, kita juga tidak menemukan spesies raptor migran yang mati akibat terkena penyakit. Jadi, sampai saat ini belum ada kasus virus AI yang mengenai satwa migrasi.

Skema Penanggulangan

Meskipun demikian, indikasi satwa migrasi yang terkontaminasi penyakit tetap ada. Untuk itu, perlu dilakukan upaya yang strategis sebagai mekanisme penanggulangan atau pencegahan terhadap spesies migrasi ini. Beberapa tahun lampau, kita sudah menyarankan untuk melakukan skema ’bird banding’ bersama di mana produk dalam kegiatan ’bird banding’ dibuat dan dikoordinasi oleh pemerintah, sehingga pemerintah tahu jumlah populasi spesies yang bermigrasi keluar dan masuk Indonesia.

Dengan mengetahui jumlah populasi satwa migrasi ini, faktor-faktor penyebaran penyakit otomatis dapat dikontrol. Skema ini juga mencegah timbulnya ’science crime’ yaitu menggunakan ’science’ untuk tujuan kriminal atau menyimpang, karena yang mungkin dipertimbangkan adalah seberapa cepat waktu mutasinya virus AI (H5N1) kalau memang virus tersebut mutan dan merupakan ’penyakit influenza baru’ di Indonesia.

Mutasi memerlukan waktu lama karena memerlukan perombakan dalam rantai DNA virus, kalau itu bersifat cepat atau distimulasi, kemungkinan ada faktor disengaja.

Skema koordinasi antarstakeholder. Jadi, perlu ada mekanisme komunikasi yang baik antar berbagai bidang ilmu dalam menyikapi kasus flu burung ini untuk mengembangkan strategi pencegahan yang baik.

Menarik apa yang disampaikan oleh SBY (dalam 6 instruksi pencegahan flu burung) terutama pada poin kelima yaitu pembentukan forum flu burung untuk menciptakan sinergitas.

Perubahan pola hidup masyarakat merupakan hal yang penting. Saat ini, yang patut diwaspadai adalah lalu lintas satwa perdagangan yang sering kali tidak ada pengontrolan terhadap penyakit terutama satwa selundupan. Satwa-satwa ini sangat rentan terhadap penyebaran virus AI karena sangat mungkin bersentuhan langsung dengan manusia atau mengenai ternak.

China dan Hongkong yang dianggap merupakan asal muasal penyebaran virus tersebut, juga merupakan eksportir baik legal maupun ilegal satwa ke Indonesia. Kemungkinan virus AI menyusup masuk ke Indonesia dan mengontaminasi ternak unggas atau satwa residen yang liar lainnya, apabila jenis ini tidak dikontrol penyakitnya.

Wishnu Sukmantoro, Koordinator Jaringan Riset dan Konservasi Raptor, Bogor

  1. bwsnour / Mar 10 2008 2:57 pm

    boleh saya gabung dalam jaringan riset gak pak???

    saya sebenarnya tertarik terhadap pemantauan burung apalagi jenis raptor,
    selama ini saya juga sedang melakukan pemantauan terhadap beberapa jenis burung di Aceh.
    rencananya saya ingin melakukan pemeriksaan flu burung pada burung liar di Aceh, akan tetapi masih saya masih membutuhkan banyak literatur tentang burung air migran di Indonesia.
    kalau boleh, saya minta bantuan dari bapak sebagai orang yang sudah berpengalaman…..
    email sayaadalah : aneukvet@yahoo.com

  2. dasarburung / Mar 12 2008 2:50 am

    wadduh…..saya cuman copypaste aja nih pak
    info lengkapnya bisa menghubungi RAIN (Raptor Indonesia) di Pusat Informasi Lingkungan Indonesia……klik aja http://www.pili.org

  3. dasarburung / Mar 12 2008 3:00 am

    ups…maaf keliru
    silakan kontak ke PILI
    Address :
    Jl. Tumenggung Wiradireja No. 216 RT. 03/06 Cimahpar, Bogor 16155, Jawa Barat, Indonesia
    PO. BOX. 146, Bogor 16001
    Phone : +62-251-657002 / 657208
    Fax. : +62-251-657171
    E-mail : ngo-move@indo.net.id
    Website : http://www.pili.or.id/

    untuk burung air, dapat menghubungi
    Contact Us

    Wetlands Iternational Indonesia Programme
    Office Address
    Jl.Ahmad Yani No. 53, Bogor 16161, Indonesia
    +62-251-312189
    +62-251-325755
    admin@wetlands.or.id

  4. rahmah / Mei 30 2010 1:04 pm

    Mau Share Ya. Propolis bisa menjadi solusi kesehatan untuk berbagai penyakit, termasuk flu babi dan Flu Burung, yang bekerja secara holistik. Propolis adalah zat yang dihasilkan oleh lebah sebagai obat dan pencegahan penyakit (Hampir semua kitab suci menulis tentang lebah, Q.S. An Nahl Ayat 68 & 69). Info tentang propolis dapat kunjungi obatpropolis.com
    semoga bermanfaat
    Rahmah

    • dasarburung / Des 14 2010 4:46 am

      terima kasih informasi tambahannya. kayanya saya dapet diskon nih kalo belanja. hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: